Langsung ke konten
Langsung ke isi artikel
Info Seputar Usaha

Kisah Sukses Dapur Mak Maya: Dari Dapur Rumahan ke Pasar Global

jeremihafidz· Wirausaha Digital 4 menit baca

Materi pendamping

Buka materi (PDF)

Di dapur rumah sederhana di Samarinda, aroma rempah menggoda semangat pagi. Di situlah Maya Sari Sasmita memulai langkah berani meracik masakan otentik Kalimantan untuk dijual. Berbekal resep keluarga dan bahan lokal, Maya mendirikan CV Maya Sari Jaya Mandiri dan menjalankan brand kuliner Dapur Mak Maya sejak 2019. Awalnya ia menjajakan beragam olahan rumahan dari roti canai hingga rendang  bahkan membuka lapak kecil di Food Court BIG Mall Samarinda. “Waktu itu baru buka 3 bulan, eh langsung disuruh tutup karena pandemi. Ya, akhirnya putar otak, balik jualan online. Mulai coba di e‑commerce, di Shopee,” kenangnya. Meski usaha terhenti, semangat Maya tak padam. Ia beralih menjual produk kering seperti rumput laut kering, terasi bubuk sangrai, dan camilan khas Kalimantan melalui platform daring.

Momen terpuruk itu justru menjadi titik balik. Selama pandemi, Ibu Maya konsisten menjalankan usahanya meski harus di rumah saja. Ia belajar memotret produk, mengelola pesanan online, dan berkomunikasi dengan pembeli melalui ponsel. Di sisi lain, ia terus mengembangkan resep agar rasa tetap otentik. Pada 2023, Maya kembali menyalakan dapur usahanya dengan inovasi produk baru. Ia mulai memproduksi makanan beku siap saji seperti rendang vakum dan kacang disco khas Kalimantan  yang tahan lama dan praktis untuk pasar luas. Hasil karyanya kini tersedia di swalayan lokal Samarinda (Joy Mart, Planet Swalayan, Mega Swalayan) dan toko online resmi brand-nya. Maya menceritakan, “Saya sempat berhenti, tapi rasanya enggak happy. Ternyata jiwa saya memang di jualan. Senang rasanya punya usaha sendiri, bisa berinteraksi langsung sama pembeli, kirim barang, dan produksi juga,” ungkap Maya.

Dapur Mak Maya dikenal mengedepankan rasa autentik dan kualitas bahan. Dari sambal cumi dan sambal petis hingga empek-empek khas Palembang, setiap produk diracik tanpa pengawet dan dengan bumbu tradisional. Maya menekankan pentingnya bahan lokal berkualitas tinggi: misalnya ikan tenggiri segar untuk empek-empek dan rumput laut pilihan hasil budi daya petani di Kalimantan. Semua olahan dijaga cita rasanya agar tetap “real” seperti makanan rumahan. Berkat keuletannya, Dapur Mak Maya kini juga tampil di platform e‑commerce besar. Media memuji keberanian Maya “tak selalu memulai dari pabrik besar. Dari sebuah dapur sederhana, Ibu Maya Sari Sasmita menunjukkan bahwa UMKM lokal juga bisa bersaing di pasar global”. Ia pun aktif memasarkan produknya lewat Shopee dan media sosial, memastikan masakannya mudah dijangkau pelanggan di seluruh Indonesia.

Setelah mengokohkan pasar lokal, Maya Sari menatap peluang ekspor. Sejak akhir 2023 ia mengikuti pelatihan ekspor dan digital marketing, membangun website resmi dan mempelajari regulasi perdagangan internasional secara mandiri. “Sepulang dari pelatihan, saya pelan-pelan susun dokumen. Belajar juga dari YouTube, ikut pelatihan dinas, bahkan daftar di INAexport. Sempat ada calon pembeli dari USA, tapi belum cocok harganya. Tapi dari situ saya belajar,” ceritanya. Maya juga mengikuti program pendampingan Digital Kaltimpreneur dari Bank Indonesia untuk memperkuat strategi digitalisasi usahanya. Fokusnya kini pada produk unggulan ekspor: rumput laut kering dan terasi sangrai. Bahan baku diolah bersama keluarga di Bontang: rumput laut dan terasi mentah diproduksi di sana lalu diolah ulang di rumah Ibu Maya demi standar ekspor. “Produksi rumput laut dan terasi dari keluarga di Bontang, nanti saya olah lagi jadi bubuk di rumah untuk terasinya. Kalau misalnya tembus ekspor, ini bisa menciptakan lapangan kerja baru juga buat ibu-ibu di sana,” ujarnya. Dengan persiapan matang, Maya optimistis produk Dapur Mak Maya bakal menembus pasar Asia  pasar yang “lebih dekat dan cocok dengan produk lokal Indonesia”

Kisah Ibu Maya Sari tak hanya tentang bisnis, tapi juga nilai sosial dan kearifan lokal. Ia selalu memberdayakan keluarga dalam rantai usahanya: ibunya membantu proses produksi di dapur, keluarga di Bontang menanam rumput laut dan membuat terasi, bahkan beberapa tetangga juga dilibatkan saat pesanan membeludak. “Kini Maya tidak sendiri. Dia dibantu oleh ibunya dan satu orang lainnya untuk produksi, membuktikan bahwa UMKM perempuan juga bisa membuka peluang kerja bagi keluarga,” tulis media. Sikap gotong-royong ini mencerminkan filosofi hidup Maya: bahwa keberhasilan bersama dibangun pelan-pelan dengan ketekunan. Ia sering menegaskan, “Saya percaya, pelan-pelan pasti bisa” Keyakinan inilah yang membawanya terus berinovasi dan tak gentar menghadapi tantangan.

Dari cerita hidup dan brand Dapur Mak Maya, kita bisa meneladani semangat pantang menyerah dan kreativitas Ibu Maya. Kisahnya yang mengalir hangat dan penuh inspirasi ini menggarisbawahi bahwa dengan kerja keras, inovasi, dan kolaborasi lokal, setiap usah kecil pun bisa melangkah jauh  tak sekadar bertahan, tapi bahkan menembus pasar nasional hingga internasional. Maya Sari membuktikan: walau bermula dari dapur sederhana, mimpi besar tetap diraih dengan hati dan kebijaksanaan lokal yang kuat.

Bagikan WhatsApp Telegram