Langsung ke konten
Langsung ke isi artikel
Review novel/buku menarik

Almond: Belajar Memahami Perasaan dari Seseorang yang Sulit Mengenali Emosi

Dian Fitriani Aulia 3 menit baca

Versi video dari artikel ini

Materi pendamping

Buka materi (PDF)

Tentang Yunjae

Yunjae digambarkan mengalami alexithymia, yang membuatnya kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi. Sejak kecil, ibu dan neneknya membantu Yunjae memahami bagaimana ia seharusnya merespons situasi sosial—kapan tersenyum, kapan mengatakan terima kasih, hingga bagaimana membaca reaksi orang lain.

Namun kehidupannya berubah setelah sebuah peristiwa tragis membuat Yunjae harus menghadapi dunia dengan lebih mandiri.

Di tengah kehidupannya yang semakin rumit, Yunjae bertemu Gon, remaja dengan kehidupan dan cara mengekspresikan emosi yang sangat berbeda darinya. Kalau Yunjae terlihat tenang dan sulit menunjukkan perasaan, Gon justru dipenuhi kemarahan dan luka dari masa lalunya.

Pertemuan dua karakter yang bertolak belakang inilah yang menjadi salah satu bagian paling menarik dalam Almond. Perlahan, hubungan mereka berkembang dan memperlihatkan bagaimana manusia bisa saling memahami meskipun memiliki cara merasakan dunia yang berbeda.

Bukan Sekadar Cerita tentang Emosi

Hal menarik dari Almond adalah ceritanya tidak hanya bertanya, “Bagaimana rasanya hidup tanpa bisa memahami emosi seperti kebanyakan orang?”

Novel ini juga mengajak pembaca bertanya:

Apakah empati harus selalu dimulai dari perasaan?

Yunjae mungkin tidak bereaksi seperti orang lain, tetapi dari hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, ia perlahan mempelajari arti perhatian, persahabatan, kehilangan, keberanian, dan hubungan antarmanusia.

Di sisi lain, Gon memperlihatkan bahwa memiliki emosi yang kuat juga bukan berarti seseorang otomatis mampu memahami dirinya sendiri.

Dua karakter ini seolah berada di dua ujung yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama sedang belajar menjadi manusia.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Almond mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat menilai seseorang hanya dari ekspresi atau cara mereka merespons sesuatu.

Ada orang yang terlihat tidak peduli, padahal mereka hanya kesulitan menunjukkan apa yang ada di dalam dirinya.

Ada juga orang yang terlihat penuh kemarahan, padahal di baliknya tersimpan pengalaman dan luka yang tidak diketahui orang lain.

Karena itu, memahami seseorang membutuhkan lebih dari sekadar melihat apa yang tampak dari luar.

Novel ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak selalu terjadi melalui perubahan besar. Kadang seseorang bertumbuh melalui pertemanan, percakapan sederhana, pengalaman baru, dan keberanian untuk mulai memahami orang lain.

Kenapa Novel Ini Menarik Dibaca?

Almond menggunakan cerita coming-of-age yang relatif sederhana untuk membahas persoalan yang lebih besar tentang empati, hubungan manusia, keluarga, persahabatan, dan proses memahami diri sendiri.

Novel ini kemudian mendapat perhatian internasional. Penerbit Changbi mencatat Almond telah mencapai lebih dari satu juta kopi di Korea Selatan, dijual hak terjemahannya ke lebih dari 20 negara, serta memenangkan kategori novel terjemahan pada Japan Booksellers’ Award 2020.

Penutup

Pada akhirnya, Almond bukan hanya cerita tentang seorang anak yang kesulitan memahami emosi.

Ini adalah cerita tentang manusia yang perlahan belajar memahami manusia lainnya.

Dan mungkin itulah pesan paling sederhana yang bisa kita bawa setelah membaca novel ini:

Kita tidak harus mengalami dunia dengan cara yang sama untuk bisa saling memahami.

Bagikan WhatsApp Telegram